July 30, 2017

Jangan Mengulang Jaman Kegelapan Eropa di Indonesia



Jika menilik sejarah Eropa, ada masa di mana Eropa mengalami jaman kegelapan. Masa itu Gereja dan Kerajaan mempunyai kekuatan besar dalam mengendalikan negara dan kekuasaan. Gereja serta para pastur mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik.
Mereka berpendapat hanya gereja saja yang pantas untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri dari ahli-ahli sains merasa ditekan. Pemikiran merekapun ditolak, dan timbul ancaman dari gereja, yaitu siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan dihukum, malah ada yang dibunuh seperti contohnya Nicolas Copernicus.
Credo et intelligam” atau ”Keyakinan (keimanan agama) berkedudukan di atas pemikiran (logika), keyakinan mengungguli pemikiran
Keyakinan Kristiani yang mendominasi di masa Abad Pertengahan ini, menjadikannya  tidak mudah untuk dapat dikritisi, sekaligus membuat kedudukan mereka yang berada dalam struktur otoritas agamanya menjadi tinggi dan tak dapat disalahkan. Dan karenanya ini juga membuat mereka makmur secara ekonomi juga sebagai pemegang mandat negara dengan mandat Otokrasi dan Teokrasi Kristiani
Apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini saya khawatirkan akan sama seperti Eropa di jaman kegelapan. Pengurus agama mempunyai kedudukan tinggi dan mempengaruhi kekuasaan negara. Lihatlah, saat pemilu/ pilkada, peserta pemilu/ pilkada akan mendekat , sowan pada ulama-ulama yang mempunyai daya pengaruh .
Ulama minta dihormati tetapi tidak semua ulama layak dihormati. Muslim yang mempunyai pikiran kritis dilabeli “munafiqun”, “Liberal”, “Sekuler” hingga "kafir".
Bagaimana ulama bisa dipercaya, saat sang ulama mengambil fatwa tanpa melakukan tabayyun yang semestinya (melakukan riset, wawancara semua pihak) padahal fatwa ini mempengaruhi hidup ratusan juta umat, lalu di pengadilan walaupun sudah bersumpah dengan al quran tetapi tidak berkata jujur?
Bagaimana ulama mau dihormati saat ulama ketahuan berbohong, menyebarkan kebencian dan hoax demi kepentingan politik mitranya ? 
Bagaimana ulama mau dihormati jika membohongi istrinya selama tujuh tahun demi berselingkuh dengan perempuan lain ?
Bagaimana Islam bisa dihormati jika ustadz muda menyamakan surga dengan tempat pesta sex, dan itu dikatakan di TV Nasional?
Ulama adalah teladan umat Islam, setelah Nabi Muhammad SAW. Menjadi ulama adalah beban berat karena setiap perkataannya didengar jutaan orang dan akan dipertanggungjawabkan di hari akhir. Apa jadinya jika umat terpecah belah dan saling benci karena fatwa yang diambil tidak dengan adil atau Karen's ustadz yg hobi menyebarkan hoax ?
Oleh sebab itu kami umat hanya bisa berharap ulama setidaknya mewarisi 4 sifat nabi; siddiq, amanah, fatonah dan tabligh. Kami rindu sosok ulama seperti itu dan juga berlaku adil seperti Umar bin Khattab. Jangan sampai anak-anak muda bingung, apatis dan kehilangan teladan, lalu seperti eropa, menjadi tidak peduli dengan agama, agnostic.
Sejarah kembali terulang, karena manusia malas belajar

Let it go - Menanggapi fenomena pelakor

Entah karena ada medsos atau memang angka perselingkuhan makin tinggi, kenapa akhir2 ini makin banyak perselingkuhan. Entah karena per...