March 26, 2017

Nothing Last Forever



Lima tahun lalu saat saya bekerja di daerah konflik di Papua, jarum jam seakan bergerak pelan, sementara otak saya berputar cepat kapan ini akan segera berakhir.
Sebelum saya memutuskan untuk bekerja di daerah pedalaman Papua, saya menyadari resiko yang akan saya hadapi. TV nasional saat itu ramai memberitakan tentang penembakan karyawan expatriat. Ibu saya sebenarnya tidak mengijinkan pada awalnya, tapi saya memastikan saat ini aman, karena transportasi cuti karyawan level staff sudah dgn helikopter bukan dgn bis. 

Ternyata pada tahun kedua, terjadi mogok kerja dua kali, dan yg kedua cukup panjang sekitar 3 bulan. Di sinilah semua teror yang tidak pernah saya bayangkan terjadi. Memo berita penembakan, karyawan keamanan level manager yg dibunuh sadis di dalam mobil di jalan tambang Timika, baling-baling helikopter yang tertembak padahal penembaknya dari arah seberang jurang, suara letusan tembakan di dekat lokasi kantor dan memo lain yg membuat kami seperti zombi saat membacanya, muka lempeng tapi di dalam hati berdoa keras semoga Tuhan masih berbaik hati melindungi kami.
Saat keadaan makin tidak aman, ditetapkan jam malam, penambahan personil tentara, polisi dan bahkan tenaga keamanan bule, pertanyaan kapan semua ini akan berakhir terus memenuhi otak saya.

Ternyata semuanya ada akhirnya. Tidak ada yg abadi di dunia ini, saat saya ambil cuti rotasi selama satu bulan, saat keluar dari kawasan tambang, turun dari helikopter saya merasakan bisa menarik udara kebebasan, bebas dari rasa takut. Tidak ada lagi tentara dan polisi hilir mudik dengan senjata laras panjang entah AK 47 atau SS1. Tidak ada lagi tank di dekat lokasi kerja dan kami tinggal.

Saat kembali pulang dari cuti ke lokasi kerja, selesai mogok kerja, semuanya kembali normal, seolah olah tidak pernah terjadi semua penembakan.

Nothing last forever. Dunia ini fana.

Sama seperti yg terjadi di Paris, dan daerah konflik lainnya. 
Pertanyaannya hanya berapa lama itu akan berakhir. Kakak saya dan keluarganya pasti tidak akan pernah membayangkan teror seburuk itu terjadi di kota Paris yang tenang.
Siapapun yang mengerti spiritualisme dalam beragama menyadari, kita tidak perlu bereaksi lebai dengan takdir Tuhan. Semua yg terjadi di alam dunia sudah tertulis. Kita mungkin bingung kenapa Tuhan membiarkan orang-orang jahat dan rakus membentuk ISIS, dan segala macam pertanyaan lainnya.
Tetapi begitulah aturan main di dunia, dunia yang ada akhirnya.

Tuhan memberikan kebebasan berpikir dan memilih, karena pada akhirnya, setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hari akhir.

Jika DIA mau, DIA bisa menjadikan kita satu agama, tetapi DIA membiarkan manusia menggunakan hak kebebasan berpikir.
Jangan bingung, jangan meributkan hal-hal remeh tanpa bisa meraih kebenaran dari peristiwa yang terjadi.
Lebih baik siap diatur dan tetap taat diatur Allah dgn segala skenarioNya.
Cause nothing last forever in this earth.
*repost tulisan setahun yg lalu. Foto : koleksi 'Sarmus Photography' model Jojun
#souljourney #renungankalbu #sarimusdar

March 24, 2017

Aneh tapi nyata - Cerita dari Situs Gunung Padang




Akhirnya keinginan untuk melihat Situs Megalitis Gunung Padang di Cianjur kesampaian. Setelah rencana pergi bulan November tertunda. Saya dan teman saya ingin menulis buku tentang situs ini dari segi ilmu pengetahuan dan mata bathin orang-orang indigo. Jadi selain riset melalui buku-buku, tentu kami harus datang langsung ke lokasi untuk merasakan ambiens tempat itu. 


Ada banyak peneliti dalam negeri dan luar negeri yang menulis tentang Situs Gunung Padang, dan beberapa mengaitkannya dengan "Atlantis yang hilang" karena beberapa ciri yang disebutkan Plato sesuai dengan Situs ini. Mantan Presiden ke 6 pun serius mengundang beberapa ahli lintas disiplin untuk meneliti Situs yang menurut ahli Indonesia berusia 7500 tahun, tapi ahli Amerika serikat menyebut angka 15.000, karena batu-batu di Situs ini dianggap lebih tua daripada batu piramid yang sudah mengenal tulisan (hiroglip)

Saya pergi dengan Kelompok Sahabat CInta Budaya yang dikelola Mas Tono, salah 3 nya teman-teman indigo saya

Hujan mengiringi perjalanan kami dari Citos, Jakarta, dan di awal perjalanan saya berdoa sambil mengucap "Bismilahi tawaqaltu dst" serta membaca al fatifah dan ayat qursi beberapa kali. 

Di tengah obrolan saya dengan Mba Nien (salah 1 mentor spiritual saya yg kebetulan indigo), kami mencium bau dupa kemenyan menyengat yang seperti semprotan otomatis pengharum toilet di mall, hanya saja ini intervalnya tidak konstan, bisa 5 menit atau lebih dan baunya menyan. Baunya tajam, dan saya mencoba menutupp hidung dengan pashmina

Kami mencoba mengabaikan dan sempat suuzon (berprasangka buruk) bahwa itu bau dari salah 1 peserta yang duduk tepat di depan kami, penulis buku Sejarah Mangkunegaran yang juga masih keturunan Mangkunegaran. 

Hingga kejadian melewati Cielungsi/ Mekar Sari menuju Cianjur desa, bis nyaris mundur dan kopling tidak berfungsi. Sebenarnya saya sempat batin, "Kok bisnya gini ya" saat naik dari CITOS. Hingga bis mogok di pom bensin dan kami memutuskan untuk ganti bis, karena tidak aman pergi dengan bis yang tidak memenuhi kriteria keamanan apalagi jalan mendekati Situs sempit, mendaki, berkelok kelok, berlubang, hujan licin dan berkabut sementara kiri kanan jurang

Sepanjang perjalanan, Mas Tono yang lulusan Antropologi bercerita tentang sejarah Situs Gunung Padang, Kerajan-kerajaan di Indonesia terutama Majapahit, Mangkunegaran dll. Ternyata Indonesia ini kaya raya sejak jaman dahulu. Pemerintah Belanda rela menukar New York dengan Pulau kecil di Maluku yang kaya rempah - rempah ke Inggris. Batavia di jaman VOC dulu sempat terkenal di dunia sebagai pusat finansial, karena lidah indonesia tidak bisa mengucap "financiel" maka mereka menyebut daerah pusat bisnis di Batavia menjadi Pinangsia (seperti kata jongos yang berasal dari Jong Oost, dll kata serapan dari bahasa Belanda)

Jaman dahulu sebenarnya Kerajaan di Indonesia mempunyai kedudukan yang sama dengan kerajaan-kerajaan di dunia, terutama Eropa, dan sudah menjadi tradisi pergaulan kerajaan jaman itu, masing-masing raja saling bertukar hadiah. Banten di jaman VOC adalah salah satu pusat penghasil lada, yang membuat Sultan Banten menjadi sangat kaya, hingga menghadiahkan 2000 berlian ke Ratu Inggris saat itu. Raja Thailand pun berkunjung 3 kali ke Indonesia, terutama ke Mangkunegaran untuk mempelajari sistem pemerintahan di Jawa (Raja memberikan hadiah patung gajah, sekarang ada di Museum Gajah, Jakarta) 










Singkat cerita kami sampai di Lokasi SItus, dan baru sampai di pintu masuk, tiba-tiba HP saya tidak bisa untuk selfie (tapi bisa untuk mengambil foto non selfie). Untuk sampai ke situs, ada 2 jalan setapak dari batu, yang sebelah kiri jalan menanjak 45 derajat dengan 300 tapak, yang sebelah kanan jalan yang agak landai tapi memanjang. Saya pilih yang kiri untuk mengetahui seberapa fit saya dengan usia saya saat ini. Alhamdulilah saya masih fit ternyata.






Di level 1 kami disambut kuncen profesional warga setempat yang paham sejarah, filosofi dan cerita dari Situs ini. Pak Kuncen bilang, "kalian beruntung, hujannya tiba-tiba berhenti saat kalian sampai" Lima menit mendengarkan sambil duduk, tiba-tiba seperti ada energi yang ditarik dari belakang leher saya, dan saya merasa nyaris mau pinsan/ jatuh, sambil berdoa "Yaa Alllah beri kekuatan" Orang-orang yang "sensitif" bisa merasakan besarnya energi di Situs ini entah karena kekuatan magnetis dari batu-batu yang menurut penelitian ilmiah mengandung ferum (besi) 40 % ini atau energi lainnya. 

Saya sempat cerita ke teman saya yang indigo ternyata dia juga mengalami hal yang sama, padahal dia tadi lewat jalan yang landai, jadi pengalaman seperti disedot energi tadi bukan karena kelelahan. 

DI sini ada batu kanuregaan (uji kekuatan batin) yang menurut mitos, jika orang bersih hati sekali pun anak kecil bisa mengangkat batu ini. Oleh pengelola situs batu ini sekarang dikawati supaya orang tidak bisa mengangkat. Saat saya pegang beberapa menit saya merasakan getaran, mungkin karena energi magnetis? 

Ada juga tempat Singgasana di level 5 yang dulu digunakan Raja Siliwangi untuk bermeditasi. Energi di tempat ini jauh lebih besar dibandingkan tempat lain/ level lain. Saya merasakan nyaman dan hangat di sini.

Menurut penelitian ahli geologis, di bawah Situs ini masih ada 2 lantai ruang kosong, dan kemungkinan ada batu berenergi besar yang menggerakkan sistem perairan ke bawah yang sangat modern untuk jaman itu (ribuan tahun lalu). 

Akhirnya kami turun kembali ke pintu masuk tadi, dan lucunya HP saya kembali bisa untuk foto selfie. OK deh, mungkin "mereka" tidak mau saya berselfie2 di sini.


Nah kembali lagi ke cerita bau dupa tadi saat turun ke pintu masuk, saya sengaja berjalan di belakang ibu yang kami duga asal dari bau dupa di bis, ternyata bau dupa itu bukan dari si ibu, dan sejak pindah bis di POM Bensin tadi memang bau dupa langsung hilang. Saya dan teman sempat mengkonfirmasi dengan si ibu, apakah dia memakai parfum berbau dupa tetapi ternyata tidak. Jadi mungkin bau dupa itu adalah peringatan kami untuk pindah bis, karena bis sebelumnya tidak aman, herannya hanya saya dan teman saya yang mencium bau dupa tersebut. 









Aneh tapi nyata


#Traveling #situsgunungpadang

March 20, 2017

Dear Para Suami


Saat kamu menyatakan cinta, lalu melamar perempuan yang kamu cintai
Tahukah kamu, keputusan sang perempuan untuk menerima adalah keputusan yang sangat berat
Dia harus memikirkan jauuuuuuuuuuuuh ke depan, menaruh harapan-harapannya pada satu laki-laki yang dia percaya
mengorbankan sebagian 'kebebasan' sebagai perempuan lajang, demi kebahagian dirimu, anak-anakmu, lalu dirinya
Sejak dia menerima lamaranmu, dia siap menjadikan dirinya kepentingan kesekian setelah dirimu, dan anak-anakmu
Tapi biarpun begitu dia bahagia karena melakukan itu untuk orang-orang yang dia cintai.
Jangan kau sia-siakan keputusannya untuk menerima dirimu, diantara laki-laki lain yang mendekatinya.
Saat kamu melamar dia, satu kalimat itu harus kau pertanggungjawabkan sampai mati, bukan hanya setahun, dua tahun, tiga tahun, atau lima tahun.
Kau bilang akan memberinya kebahagian, bahagiakan dia sampai ajal mendekat.
Kau bilang akan mencintainya, cintai dia apa pun keadaannya
Sekali mengucapkan, mestinya kamu tahu akibat dari kalimat itu.
Jangan kau khianati perempuan yang telah menaruh harapan dan masa depannya pada dirimu.

*Peluk hangat untuk semua istri yang saat ini sedang berjuang memupuk cinta dengan suaminya*

#relationship #humanism

March 10, 2017

Membangun Masa Depan Papua Melalui Pendidikan





Papua, pulau yang terletak paling timur dari pusat pemerintahan negara Indonesia, sepertinya juga jauh dari perhatian pemerintah. Sejak bergabung dengan Indonesia tahun 1962, daerah ini seperti dianaktirikan. Kekayaan alamnya diambil untuk pembangunan daerah di Indonesia, tetapi manusianya diabaikan.

Saya pernah bekerja dan tinggal di daerah Pegunungan Tengah Papua, daerah yang baru mengenal peradaban manusia modern sejak tahun 1960, sejak misionaris Kristen dari Belanda datang ke tempat ini. Selama bekerja di bidang manajemen sumber daya manusia, saya takjub saat mengetahui banyak orang Papua usia produktif dari tujuh suku yang tinggal di desa-desa sekitar Site tempat saya bekerja ternyata buta huruf. Karena buta huruf, tentu saja Perusahaan tidak bisa menerima mereka sebagai karyawan. Akibatnya mereka sering demo meminta pekerjaan.


Amungme boy

Papua memang seperti terabaikan. Baru pada pemerintahan presiden ke tujuh, Joko Widodo, pulau di ujung timur Indonesia ini mulai dilirik dan mulai diadakan pembangunan. Presiden tidak hanya membangun infra struktur yang bersifat fisik, tetapi juga membangun manusia Papua, terutama anak-anak Papua sebagai generasi penerus. Kesulitan yang dihadapi orang-orang Papua adalah selain akses yang sulit untuk dijangkau, masalah transportasi karena kontur alam,  juga kekurangan sumber daya manusia yang kompeten dan fasilitas pendidikan.


writer with Kamoro Man in his traditional accesories 


Sementara sebagian besar orang Indonesia hanya menyalahkan pada satu perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia saat melihat kemiskinan dan ketertinggalan Papua, ada beberapa orang muda yang terpanggil untuk memberikan kontribusi nyata kepada warga Papua. Jauh sebelum Presiden Joko Widodo mulai memperhatikan Papua, ada beberapa gerakan dari masyarakat di luar Papua yang peduli untuk meningkatkan mutu generasi muda Papua, terlebih anak-anak yang ada di Pegunungan Tengah.




Berikut adalah beberapa orang atau pun gerakan masyarakat yang dengan kepeduliannya dengan modal swadaya masyarakat memberantas kemiskinan dan membangun Papua melalui pendidikan.
  • 1.      Gerakan Buku untuk Papua

Gerakan ini didirikan oleh seorang pemuda non Papua bernama Dayu Rifanto yang pernah menikmati masa kecilnya di Papua sebelum pindah ke Jakarta untuk kuliah dan bekerja. Ide awal didirikan organisasi ini adalah saat sang pendiri ingin membantu temannya Longginus Pekei seorang guru di PAUD Nabire ingin mempunyai Rumah Baca tetapi kesulitan untuk mendapatkan buku. Semula gerakan ini hanya ada di satu kota Jakarta dan diikuti teman-teman pendiri yang berasal dari Papua, tetapi lama kelamaan melalui kampanye di media sosial seperti facebook, twitter dan instagram banyak anak muda di kota-kota di Indonesia yang tertarik untuk bergabung.

Kurang lebih sejak dua tahun lalu Buku Untuk Papua sudah mempunyai banyak perwakilian di beberapa kota di Indonesia. Banyak perpustakaan sederhana yang sudah dibangun di beberapa kota di Papua. 

Gerakan ini sesuai namanya bertujuan untuk menyediakan buku (bekas atau pun baru) kepada pelajar Papua dengan mengumpulkan buku-buku dari penyumbang dan membangun perpustakaan sederhana di beberapa daerah di Papua.  Buku untuk Papua mempunyai moto Sebuah Buku, Bangkitkan Papua. Mengapa buku? Karena di Papua sulit untuk menemukan buku pelajaran. Kalaupun ada harganya sangat mahal dibandingkan dengan harga buku di Pulau Jawa.

Organisasi yang berawal dari sebuah gerakan solidaritas ini, berkembang karena kreatif menggunakan media sosial. Mereka juga mempunya cara kreatif untuk mendapatkan donasi buku, seperti antara lain mengadakan kelas cerdas. Kelas cerdas adalah kegiatan berbagi ilmu dari nara sumber yang kompeten. Peserta Kelas Cerdas tidak harus membayar biaya pelatihan, tetapi mereka disarankan membawa buku bekas yang masih layak baca untuk disumbangan dan didistribusikan ke rumah baca di Papua. Saya penah sekali menjadi pembicara di Kelas Cerdas untuk berbagi tentang menulis kreatif , ternyata peminatya lumayan banyak karena mereka senang selain mendapat pengetahuan baru juga bisa membantu teman-teman di Papua.



Writer sharing her knowledge and experience about creative writing


One of the participants is from Papua and he got scholarship to study in UK



  • 2.      Indonesia Mengajar dan Festival Gerakan Indonesia Mengajar

Indonesia Mengajar merupakan yayasan yang bertujuan mencerdaskan manusia Indonesia terutama yang terletak di daerah pedalaman agar mempunyai mutu pendidikan yang sama seperti kota-kota besar. Setiap tahunnya Indonesia Mengajar melakukan perekrutan Pengajar Muda yang dipilih dengan standar yang tinggi. Mereka yang terpilih sebagai pengajar muda, tidak hanya cerdas, tetapi juga mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat di daerah tempat mereka ditempatkan selama setahun. Sebelum mengajar, para lulusan S1 ini diberikan bekal psikologi dan cara mengajar (pedagogi) yang efektif.

Selain itu untuk menjaring banyak donatur, di tahun 2013 Yayasan Indonesia Mengajar mengadakan Festival Gerakan Indonesia Mengajar yang berhasil mendatangkan ribuan relawan untuk menyumbang dan membuat fasilitas dan alat bantu pendidikan yang dikirimkan ke daerah-daerah terpencil di Indonesia, termasuk di Papua.





Indonesia Mengajar juga mempunyai kegiatan lain bernama Kelas Inspirasi Kelas Inspirasi tujuannya adalah memberikan motivasi kepada siswa Sekolah Dasar untuk berani mempunyai cita-cita dan meraih cita-cita tersebut dengan mendatangkan relawan profesional di bidang masing-masing untuk menceritakan profesi mereka, pendidikan dan bagaimana mencapai cita-cita. Kelas Inspirasi semula hanya diadakan di Jakarta tetapi sekarang sudah ada di banyak kota termasuk kota-kota di Papua, seperti Merauke, Jayapura dan Fak Fak.

  • 3.      Guru untuk Puncak Jaya

Puncak Jaya, daerah di ketinggian dan terpencil, di Papua, nyaris terbelakang karena tidak ada guru dari daerah lain yang mau mengajar di sana. Kebanyakan guru pemerintah yang ditempatkan di sana tidak betah, selain karena beda budaya juga karena gaji yang tidak mencukupi dibandingkan biaya hidup di Papua yang sangat tinggi. Biasanya tentara yang menjaga keamanan juga berperan sebagai guru. Sekitar tiga tahun lalu pemerintah daerah bekerjasama dengan UGM mulai mengadakan perekrutan guru dari seluruh daerah di Indonesia untuk ditempatkan mengajar di Puncak Jaya.

Selain gerakan atau organisasi di atas, ada beberapa istri karyawan dari Perusahaan Tambang Emas dan Tembaga Freeport yang memberikan pendidikan kepada anak-anak di desa-desa terdekat seperti Kimbeli, Aroanop, Banti dan Opitawak. Para ibu ini selain memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak, juga memberikan pendidikan dasar ke perempuan dewasa Papua. 

Mereka juga membantu mengembangkan para Ibu Papua di desa-desa tersebut untuk berwiraswasta dengan membuat noken yang dibantu penjualannya. Sudah bukan rahasia lagi, istri atau perempuan dalam masyarakat Papua mempunyai tanggung jawab yang berat. Mereka harus menyiapkan masakan, mencari kayu bakar, mengurus kebun, merawat anak dan babi. Selain itu di sela –sela kegiatan mereka yang sibuk, mereka masih sempat membuat noken untuk konsumsi sendiri yang digunakan untuk membawa kayu, hasil kebun, babi atau pun anak mereka, digunakan suami atau untuk dijual.

Perusahaan Tambang Emas dan Tembaga Freeport pun sebenarnya sudah memberikan donasi kepada Lembaga Swadaya Masyarakat LEMASA di Timika sejak tahun 1996 untuk membangun masyarakat terutama generasi muda Suku Amungme dan Kamoro. Donasi itu diberkan berupa beasiswa bulanan, dukungan kegiatan pengembangan kebudayaan dan pembangunan sekolah. Selain itu untuk mengembangkan ekonomi mereka, mereka diajarkan bercocok tanam seperti contohnya kopi Amungme.

Masyarakat Papua, terutama yang tinggal di pegunungan sebelumnya terbiasa barter untuk mendapatkan barang. Mereka terbilang baru mengenal uang terutama sejak ada perusahaan-perusahaan di sekitar tempat mereka tinggal. Mereka belum pandai mengelola uang. Sudah bukan pemandangan yang aneh jika kita melihat laki-laki dewasa Papua tertidur di pinggir jalan di pasar dalam keadaan mabuk. Entah mereka karyawan atau penambang emas liar di Kali Kabur, mereka akan berfoya-foya dengan minuman alkohol saat menerima uang. Akibat buruk dari alcohol itu adalah kekerasan dalam rumah tangga.

Saya kira pendidikan adalah cara efektif untuk mengubah masa depan dan eskalasi sosial terbaik. Daripada hanya mengeluh kepada pemerintah, lebih baik bertindak nyata memberikan kontribusi semampu kita.


#Papua #Pendidikan #TellMyStory

Kado Allah Terkadang Dibungkus Kertas Buruk Rupa



Hadiah Tuhan terkadang dibungkus dengan kertas buruk rupa
Untuk membukanya pun perlu kerja keras. 

Beberapa orang akan menghiraukan hadiah itu dan berprasangka buruk mengapa Tuhan jahat memberikan kado buruk rupa

Beberapa mencoba membuka dengan penuh penasaran tapi kemudian berhenti di tengah bungkusan yang belum terbuka dan meninggalkan kado

Beberapa orang tetap berprasangka baik, terus membuka sampai kado terbuka. 

Seorang Susi Pujiastuti dan segelintir orang yang lainnya memilih yang ketiga. 

Kebanyakan orang mungkin akan marah-marah ke Tuhan dan berprasangka buruk Tuhan menghadirkan mereka sia-sia, hanya ingin menzalimi. 

Tuhan tidak pernah menciptakan ciptaanNya sia-sia, apalagi menzalimi. 

Bahkan seekor kucing pun hadir ke dunia terkadang berhasil menghibur tuannya yg sedang sedih.

Ada banyak peristiwa yang dulu kita kira buruk dalam kehidupan kita, ternyata membuat karakter kita lebih kuat dan lebih rendah hati. Itulah kado yang dibungkus dengan kertas buruk rupa yang sekarang bisa kita lihat sebagai kado terindah karena mata hati kita pun indah. 

Selamat membuka kado Tuhan

*Foto ilustrasi : Popov dan Yuri waktu kecil 

#tafakur #renungankalbu #tipsbahagia #souljourney

March 9, 2017

Marah Menyedot 2500 mg Vitamin C, Bersabarlah

Saya belajar, makin tinggi pemahaman seseorang akan agama,dia akan makin sabar, makin tidak reaktif, makin tidak mudah panik, karena sadar diri ini ada dalam genggaman Allah, Zat yang sangat amanah, sadar apa pun skenario Allah, semuanya membawa kebaikan.
Sebab saat panik, marah, kecewa, sedih, otak tidak bisa berpikir optimal, hingga mengeluarkan kata-kata yang tanpa kita sadari bisa menzalimi / menyakiti perasaan orang, yang akan kita sesali kemudian. Sayangnya, hati orang lain sudah terlanjur sakit, kata-kata kita meninggalkan luka.

Add caption
Itulah sebab, ada istilah, "tafakur (merenung) sejenak lebih baik daripada ibadah setahun"
Secara medis menurut penelitian, setiap kita marah, kita menyedot 2500 mg vitamin C yang ada dalam tubuh kita dan memaksa jantung untung bekerja lebih cepat. Marah jelas tidak baik bagi kesehatan medis dan mental. Ini menjelaskan mengapa saat marah atau pun sedih, orang menjadi mudah sakit. 
Jadi mana yang mau kita pilih, marah atau belajar sabar dan ikhlas?  

Photo : Langkawi - Malaysia, Sari Musdar Photography
#tafakur #souljourney #renungankalbu #contemplation


March 8, 2017

Demi Masa



Akan tiba waktunya, seiring bertambahnya usia, kau akan lebih mudah menerima skenario yang Tuhan berikan. Engkau akan lebih mudah untuk memaklumi orang lain.
Engkau juga akan lebih mudah memaklumi diri sendiri. Tidak mengapa orang lain menzalimi dirimu, asal kau belajar dari kejadian itu.
Tidak mengapa engkau tidak sempurna, engkau akan lebih mudah menerima kesalahan di masa lampau dan mengambil hikmah untuk tidak terjatuh di tempat yang sama.
Engkau bagaikan anak kecil yang tersenyum menengadah menikmati tetesan air hujan yang semakin lama semakin membuat hatimu tentram.
Engkau semakin rela diatur Allah
Tetapi jika pertambahan usia tidak membuatmu lebih "menerima" hidup, sia-sialah detik yang datang dalam hidupmu.

Dan di hari akhir nanti di saat Allah bertanya, "kau gunakan untuk apa waktumu?" di saat itulah engkau menangis ingin kembali ke dunia

*Foto : Lucerne, Sari Musdar Photography
#tafakur #selfreminder #renungankalbu #bahagiadengantafakur

March 7, 2017

My Heart Left at Tembagapura, Papua

Tembagapura (Mile 68 from Hidden Valey / Mile 66)
Grandma with her grandchild (Banti Waa) 

Next generation of Amungme Tribe

Hard worker 

The Female Teens

New Hope, her grandma works at SOS Hospital


teens


Helipad at Mile 66

The Choppers also help local people who want to go down to Timika


Working on my novel with the background Mining Site Life

Following his father

Wife making noken and baby sitting her kids

These noken then will be sold at IDR 500,000,-

One fine sunny day, no fog

Wanagon, On the Way from Grassberg to Mile 68 (Tembagapura)

At Jumbo, Grassberg Mine (open pit mining)

before going to Underground Mining Site (mile 74)

Sunny Day 


Only Hard and Brave  Worker Can Stay Here

Souvenir 

Mile 74

Underground Mining Site (Mile 74)

Grasberg when snowy

Scenery at Mile 72

2 waterfall at Camp David / Mile 72

Grasberg


Scenery from Mile 72/ Ridge Camp
Papuan Batik by Ramli, Celebrating Indonesia Independence Day

Amungme Old Man at Banti Waa, the nearest Village from Freeport Site

The town from Bukit Barat

Mile 72 near the waterwall


The former Helipad before the gun shoot 



Old Helipad
Life hard here but we entertained by the amazing view
ever imagine workinginside mountains? it's one in a life time experience
heading to Banti Waa
There are seven tribes living nearby 
Kids waiting the chopper to Timika at old Helipad at Bukit Barat
always have foggy day
my jogging track

Snowy Grasberg



















my jogging track at Sunday morning

Datura flowers

Ied Mass Praying

Wife should prepare food for family, take care pigs, baby sitting kids

Grasberg Mine



Whatever will happen there. I hope there will be win win solution. Pray the best for the 7 tribes there, the employees and Indonesia

 Amole (Peace)

#Papua #Agute #Tembagapura #Amungme #Freeport #UndergroundMining #Mining

Let it go - Menanggapi fenomena pelakor

Entah karena ada medsos atau memang angka perselingkuhan makin tinggi, kenapa akhir2 ini makin banyak perselingkuhan. Entah karena per...